Oleh Redaksi
Langkah Adhan Dambea berkantor di RSUD Aloei Saboe mungkin terlihat heroik di permukaan. Tapi bagi yang jeli, ini bukan sekadar aksi kepedulian, ini adalah diagnosis telanjang: sistem pelayanan kesehatan kita sedang tidak sehat.
Mari jujur. Jika semua berjalan baik, seorang wali kota tidak perlu “turun gunung” untuk memastikan pasien mendapatkan obat. Fakta bahwa itu terjadi hari ini adalah bukti bahwa ada kegagalan yang tidak kecil dan yang lebih mengkhawatirkan, kegagalan itu berlangsung cukup lama hingga dianggap biasa.
Pelayanan berbelit, obat sulit didapat ini bukan cerita baru. Ini cerita lama yang terus dipelihara oleh dua hal paling berbahaya dalam birokrasi: pembiaran dan kenyamanan dalam ketidakberesan.
Kita sering terjebak pada narasi “pemimpin hadir, masalah selesai.” Padahal realitasnya tidak sesederhana itu. Kehadiran Adhan Dambea di RSAS justru membuka satu fakta pahit: sistem yang ada tidak cukup kuat untuk berjalan tanpa pengawasan langsung dari pucuk pimpinan.
Artinya apa? Kita tidak sedang bicara soal kekurangan tenaga atau fasilitas semata. Kita sedang bicara soal manajemen yang bocor. Tentang kontrol yang longgar. Tentang kemungkinan adanya praktik-praktik yang selama ini bersembunyi di balik prosedur.
Distribusi obat yang bermasalah jarang berdiri sendiri. Ia biasanya hanya gejala. Di belakangnya bisa ada perencanaan yang asal-asalan, pengawasan yang setengah hati, atau dan ini yang paling tidak nyaman untuk diakui kepentingan yang ikut bermain.
Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin rumah sakit pemerintah kesulitan menyediakan obat, sementara pasien terus berdatangan setiap hari? Jika ini bukan kelalaian, maka apa?
Langkah inspeksi tentu penting. Tapi jangan berhenti di situ. Publik tidak butuh pertunjukan kehadiran. Publik butuh kepastian bahwa setelah ini, tidak ada lagi pasien yang harus berjuang mendapatkan hak paling dasar: obat untuk sembuh.
Audit harus dibuka. Nama-nama harus disebut jika ada yang bermain. Sanksi harus dijatuhkan tanpa basa-basi. Karena setiap keterlambatan memperbaiki sistem, ada risiko yang tidak bisa diulang: nyawa manusia.
Jika “ngantor di rumah sakit” hanya berhenti sebagai simbol, maka kita sedang menyaksikan satu hal yang lebih berbahaya dari pelayanan buruk, yaitu ilusi perbaikan.
Dan ilusi, dalam urusan kesehatan, bisa jauh lebih mematikan daripada penyakit itu sendiri.
Redaksi | Utinews.id









