Editorial Utinews.id
Setiap Idul Fitri, ada satu fenomena yang tak pernah masuk berita utama, tapi terjadi secara masif dan konsisten di hampir setiap rumah: lenyapnya uang zakat anak-anak secara misterius, sistematis, dan ironisnya direstui keluarga.
Modusnya sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk disebut kejahatan, karena dibungkus dengan kasih sayang.
Kalimat pembukanya selalu sama:“Sini titip dulu ya, biar Mama/Papa simpanin.”
Sebuah kalimat yang, jika diteliti lebih dalam, memiliki kekuatan lebih besar daripada kontrak hitam di film mafia. Tidak ada tanda tangan, tidak ada saksi, tidak ada jaminan. Tapi efeknya nyata: aset berpindah tangan dalam hitungan detik.
Anak-anak, dengan polosnya, menyerahkan. Orang tua, dengan santainya, menerima. Dan uang itu… memasuki fase baru: tidak jelas statusnya.
Mari kita jujur. Ini bukan sekadar “penyimpanan”. Ini adalah nasionalisasi diam-diam terhadap ekonomi anak-anak.
Tanpa rapat. Tanpa undang-undang. Tanpa kompensasi.
Yang menarik, ketika anak mulai sadar dan bertanya:
“Ma, uangku mana?”
Jawabannya selalu diplomatis:
“Dipakai dulu ya.”
“Kan buat kita juga.”
“Nanti diganti.”
Kata “nanti” di sini punya makna filosofis yang dalam. Ia tidak menunjuk waktu tertentu. Ia lebih mirip… janji yang hidup di alam paralel.
Lebih tragis lagi, praktik ini sering dianggap bagian dari pendidikan.
Katanya:
Mengajarkan berbagi
Mengajarkan kepercayaan
Mengajarkan keikhlasan
Padahal yang benar-benar diajarkan adalah:bagaimana kehilangan hak dengan cara yang sangat sopan.
Kita sering bicara soal amanah di mimbar-mimbar besar tentang kejujuran, tentang menjaga titipan, tentang hak orang lain.
Tapi entah kenapa, ketika masuk ke ruang tamu sendiri saat Lebaran, semua itu seperti cuti bersama. Diganti dengan satu prinsip baru:“Kalau masih satu rumah, itu bukan ambil itu pakai bersama.”
Tentu saja, ini bukan soal nominal. Uang anak mungkin hanya puluhan atau ratusan ribu.
Tapi yang sedang dipertaruhkan bukan angka—melainkan rasa percaya.
Karena dari situ anak belajar satu hal sederhana:bahwa bahkan dalam ruang paling aman sekalipun,hak bisa berubah status… tanpa pemberitahuan.
Namun tenang, tradisi ini tampaknya akan terus lestari. Selama masih ada amplop Lebaran,dan selama kalimat “titip dulu ya” belum punah dari perbendaharaan keluarga Indonesia.
Dan anak-anak?Mereka akan terus berharap setiap tahun. Dengan wajah ceria saat menerima,dan dengan kepolosan yang sama saat menyerahkan.
Karena dalam hati kecil mereka, selalu ada keyakinan yang tidak pernah berubah:
“Mungkin tahun ini… uangnya benar-benar disimpan.”



