Digital Detox: Solusi Redam Stres di Era Serba Online, Apa Kata Ahli?

Detox digital adalah waktu tanpa perangkat elektronik untuk meningkatkan kesadaran diri dan mengurangi waktu penggunaan layar. Foto: Ilustrasi/Getty Images

UTINEWS.ID — Di tengah gempuran notifikasi, media sosial, dan arus informasi tanpa henti, istilah digital detox kian populer sebagai cara untuk “bernapas” dari dunia digital. Sejumlah penelitian dan pendapat ahli menunjukkan, langkah ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental.

Digital detox merujuk pada upaya sadar seseorang untuk membatasi, bahkan menghentikan sementara penggunaan perangkat digital seperti ponsel, komputer, dan media sosial. Tujuannya sederhana: mengurangi dampak negatif penggunaan teknologi berlebihan terhadap kualitas hidup.

Berbagai studi menemukan, penggunaan smartphone yang tidak terkontrol berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, kecemasan, hingga gangguan tidur. Bahkan, paparan layar yang berlebihan disebut dapat memengaruhi konsentrasi dan hubungan sosial seseorang.

Seorang psikiater dari Yale University, Dr. Marc Potenza menyebutkan, mengurangi penggunaan media sosial dapat membantu memperbaiki kualitas tidur, menurunkan tingkat stres, serta meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

 “Setelah melakukan detoks digital, orang-orang melaporkan peningkatan kualitas tidur, kepuasan hidup yang lebih baik, penurunan stres, kesehatan yang lebih baik, dan peningkatan dalam hubungan,” katanya. dilansir laman ctinsider.com (26/2/2026), dikutip Utinews.id.

Hal senada disampaikan Dr. Sohaib Imtiaz, Chief Medical Officer, [verywellhealth.com, 11/1/2026], yang menilai penggunaan layar berlebihan berpotensi memengaruhi fungsi otak, termasuk memori dan regulasi emosi. Menurutnya, digital detox memberi kesempatan bagi otak untuk “beristirahat” dari tekanan digital yang terus-menerus.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah juga menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan media sosial misalnya sekitar 30 menit per hari, dapat menurunkan gejala depresi, kecemasan, serta gangguan tidur.

Namun demikian, para peneliti mengingatkan bahwa digital detox tidak selalu harus dilakukan secara ekstrem. Pendekatan yang lebih realistis adalah mengatur keseimbangan penggunaan teknologi atau digital balance, alih-alih berhenti total.
“Yang terpenting bukan menjauh sepenuhnya, tetapi bagaimana kita mengendalikan penggunaan teknologi agar tidak mengendalikan kita,” demikian salah satu kesimpulan dari kajian tersebut.

Di era digital saat ini, di mana hampir seluruh aktivitas terhubung dengan internet, digital detox bisa menjadi langkah kecil namun penting. Mulai dari mengurangi waktu layar sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak perlu, hingga menyediakan waktu tanpa gadget saat bersama keluarga.

Langkah sederhana itu diyakini dapat membantu mengembalikan fokus, memperbaiki kualitas hubungan sosial, dan yang tak kalah penting menjaga kesehatan mental.

Redaksi | Utinews
Sumber: verywellhealth.com, ctinsider.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *