Utinews.id– Kebiasaan membawa anak menggunakan sepeda motor tanpa perlindungan seperti masker dan jaket, terutama dalam jarak jauh dan dilakukan hampir setiap hari, kini menjadi perhatian serius dari kalangan medis. Para ahli menilai praktik ini bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan bentuk paparan polusi kronis yang berpotensi berdampak pada kesehatan jangka pendek hingga jangka panjang.
Anak Kelompok Paling Rentan Terpapar Polusi
Paparan polusi udara dari kendaraan bermotor menjadi faktor utama risiko kesehatan bagi anak. Menurut berbagai kajian kesehatan, anak-anak memiliki sistem imun dan organ paru-paru yang belum berkembang sempurna sehingga lebih mudah terdampak.
Sejumlah ahli kesehatan menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terhadap paparan polusi udara di jalan raya. Tanpa perlindungan yang memadai, anak berisiko menghirup partikel berbahaya secara langsung.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, memperburuk asma, hingga menghambat perkembangan paru-paru pada anak.
Data medis menunjukkan bahwa polusi udara mengandung zat berbahaya seperti karbon monoksida dan nitrogen dioksida yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Anak-anak bahkan cenderung menghirup polutan lebih banyak karena laju pernapasan mereka lebih cepat dibanding orang dewasa.
Hal ini diperkuat oleh pendapat dr. Dyah Novita Anggraini, seorang dokter dan edukator kesehatan yang dikenal sering membagikan informasi kesehatan berbasis bukti di berbagai platform media,
yang menjelaskan bahwa anak-anak lebih rentan terhadap polusi karena sistem imun dan paru-paru mereka belum berkembang sempurna.
“Anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara karena sistem imun dan paru-parunya belum berkembang sempurna,” ujarnya, melansir KlikDokter.
Selain itu, sekitar 93 persen anak di dunia diketahui hidup di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi, yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius.
Dampak Nyata: Dari Batuk hingga Gangguan Paru
Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) adalah Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung Anak terkemuka, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menyebutkan bahwa paparan polusi udara telah berdampak langsung pada meningkatnya kasus gangguan pernapasan pada anak.
“Banyak pasien anak mengalami batuk dan pilek akibat paparan polusi. Anak berusia dua hingga enam tahun bisa menggunakan masker dalam jangka waktu tertentu, tetapi tak lebih dari dua jam.” ujarnya, melansir DetikHealth.
Secara medis, paparan berulang dapat menyebabkan:
• Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
• Asma dan alergi
• Penurunan fungsi paru-paru
• Risiko pneumonia hingga penyakit kronis
Polusi udara bahkan disebut sebagai “pembunuh diam-diam” yang berkontribusi terhadap ratusan ribu kematian anak setiap tahun akibat infeksi saluran napas.
Perjalanan Motor Perparah Risiko
Penggunaan sepeda motor sebagai moda transportasi memperburuk kondisi karena anak terpapar langsung dengan sumber polusi tanpa pelindung.
Spesialis anak, dr. Wisvici Yosua Yasmin, menegaskan bahwa perjalanan menggunakan kendaraan terbuka seperti motor meningkatkan risiko kesehatan anak.
“Anak berpotensi terpapar polusi udara dan debu di jalan, sehingga berisiko mengalami infeksi saluran napas,” jelasnya, melansir DetikHealth.
Paparan ini menjadi lebih berbahaya jika terjadi:
• Setiap hari (paparan kronis)
• Dalam durasi lama (>20–30 menit)
• Pada jalan padat kendaraan
• Tanpa masker dan pelindung tubuh
Efek Jangka Panjang yang Sering Diabaikan
Para ahli mengingatkan bahwa dampak paparan polusi tidak selalu langsung terlihat. Namun, dalam jangka panjang, efeknya dapat serius.
Studi menunjukkan bahwa anak yang hidup di lingkungan dengan polusi tinggi berisiko mengalami gangguan perkembangan paru-paru.
Selain itu, paparan berulang juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko asma pada anak akibat polusi kendaraan.
Tak hanya berdampak jangka pendek, paparan polusi secara terus-menerus juga dapat memicu masalah kesehatan jangka panjang. dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K) sebagai Dokter Spesialis Kesehatan Anak Konsultan Nefrologi Anak mengingatkan bahwa kondisi ini bisa memengaruhi fungsi paru anak hingga dewasa.
“Paparan polusi secara terus-menerus pada anak dapat berdampak jangka panjang terhadap fungsi paru dan meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan,” katanya.
Tidak hanya itu, polusi udara juga dapat memengaruhi tumbuh kembang hingga kemampuan belajar anak.
Faktor Tambahan: Angin dan Daya Tahan Tubuh
Selain polusi, tidak menggunakan jaket saat berkendara membuat anak terpapar angin secara langsung. Kondisi ini dapat memicu penurunan daya tahan tubuh, terutama jika terjadi terus-menerus.
dr. Arina Heidyana, seorang dokter dan penulis medis yang sering memberikan edukasi kesehatan, menambahkan bahwa paparan angin tanpa perlindungan seperti jaket juga dapat menurunkan daya tahan tubuh anak.
“Paparan angin dan suhu dingin saat berkendara tanpa perlindungan dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga anak lebih mudah sakit,” ujarnya, melansir KlikDokter.
Paparan kombinasi polusi, debu, dan perubahan suhu membuat anak lebih rentan mengalami sakit berulang.
Kesimpulan: Risiko Tinggi Jika Dilakukan Setiap Hari
Berdasarkan analisis medis dan pendapat para ahli, kebiasaan membonceng anak tanpa masker dan jaket dalam perjalanan jauh dan rutin termasuk dalam kategori risiko tinggi terhadap kesehatan.
Risiko tersebut bukan hanya bersifat sementara, tetapi juga dapat berdampak jangka panjang terhadap fungsi paru dan kualitas kesehatan anak di masa depan.
Imbauan Ahli
Para tenaga medis menyarankan orang tua untuk lebih memperhatikan perlindungan anak saat berkendara, di antaranya:
• Menggunakan masker untuk menyaring polusi
• Memakai jaket sebagai pelindung tubuh
• Menghindari perjalanan jauh dan jalan padat
• Membatasi frekuensi perjalanan menggunakan motor
Langkah sederhana ini dinilai mampu mengurangi paparan polusi secara signifikan dan melindungi kesehatan anak.
Utinews.id mencatat, kebiasaan yang terlihat sepele di jalan raya bisa menjadi ancaman serius jika dilakukan terus-menerus tanpa perlindungan yang memadai.
Redaksi | Utinews.id
Sumber : DetikHealth, KlikDokter, AloDokter





