Berita  

11 Mei Diperingati sebagai World Ego Awareness Day, Momentum Refleksi Diri di Tengah Era Pencitraan

Utinews.id – Di tengah derasnya arus media sosial, budaya validasi, dan keinginan untuk selalu terlihat sempurna, tanggal 11 Mei diperingati sebagai World Ego Awareness Day atau Hari Kesadaran Ego Sedunia.

Peringatan ini menjadi momentum refleksi untuk memahami bagaimana ego memengaruhi cara manusia berpikir, bersikap, hingga berhubungan dengan orang lain.

World Ego Awareness Day mulai diperkenalkan pada tahun 2018 oleh gerakan sosial Ego Awareness Movement. Gerakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak egoisme dan perilaku egosentris dalam kehidupan sehari-hari.

Di era digital saat ini, isu tersebut dinilai semakin relevan. Tidak sedikit orang terjebak dalam kebutuhan untuk selalu dipuji, diakui, atau dianggap paling benar. Akibatnya, banyak hubungan sosial menjadi renggang, komunikasi dipenuhi emosi, dan kesehatan mental perlahan terganggu.

Psikolog legendaris Sigmund Freud pernah menjelaskan bahwa ego merupakan bagian penting dari kepribadian manusia. Dalam teorinya, ego berfungsi sebagai penengah antara dorongan naluriah dan nilai moral.

Artinya, ego sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Ego membantu manusia memiliki identitas, rasa percaya diri, dan kemampuan bertahan hidup. Namun, ketika ego tumbuh berlebihan, seseorang bisa menjadi sulit menerima kritik, mudah tersinggung, bahkan kehilangan empati terhadap orang lain.

Sementara itu, psikolog Swiss Carl Jung menekankan pentingnya kesadaran diri agar manusia tidak dikendalikan oleh ego tanpa disadari.

Salah satu kutipan terkenalnya berbunyi:
“Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate”— Carl Jung)
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa banyak konflik dalam hidup sebenarnya berasal dari sisi diri yang tidak pernah dikenali atau dipahami dengan jujur.

Fenomena ini juga terlihat dalam kehidupan modern. Banyak orang tampak kuat di media sosial, tetapi diam-diam merasa lelah secara emosional karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Ada pula yang sulit meminta maaf, sulit mendengar pendapat berbeda, atau selalu ingin menang dalam setiap perdebatan.

Padahal, kesehatan mental tidak hanya tentang mengatasi stres atau kecemasan, tetapi juga tentang kemampuan mengenali diri sendiri dengan lebih utuh.

Psikolog humanistik Carl Rogers menilai bahwa manusia yang sehat secara emosional adalah mereka yang mampu menerima dirinya secara autentik, terbuka terhadap kritik, dan memiliki empati terhadap orang lain.

Karena itu, World Ego Awareness Day menjadi pengingat bahwa pertumbuhan diri bukan tentang menjadi lebih hebat dari orang lain, melainkan menjadi pribadi yang lebih sadar, lebih tenang, dan lebih bijaksana dalam memperlakukan sesama.

Momentum ini juga mengajak masyarakat untuk mulai:

  • ‌belajar mendengar tanpa langsung menghakimi,
  • ‌menerima perbedaan pendapat,
  • ‌mengurangi kebutuhan validasi berlebihan,
  • ‌serta memberi ruang bagi empati dan kerendahan hati.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan dan persaingan sosial, kesadaran diri mungkin menjadi salah satu bentuk kesehatan mental paling penting saat ini.

Sebab pada akhirnya, kedewasaan bukan ditentukan oleh seberapa keras seseorang ingin diakui, tetapi seberapa mampu ia memahami dirinya sendiri dan menghargai orang lain.

Redaksi | Utinews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *