Berita  

“Jalan Terakhir dari Pinogu”: Ketika Jenazah Pun Harus Menembus Hutan dengan Ojek

Proses pemberangkatan jenazah Almarhum Yoan Uke menggunakan Ojek Motor pada, Kamis (28/5/2026).

Utinews.id — Di tengah derasnya janji pembangunan dan pemerataan infrastruktur, warga Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, kembali dipaksa menghadapi kenyataan pahit: mengantar jenazah menggunakan ojek motor karena jalan rusak belum bisa dilalui .

Kali ini, yang menjalani perjalanan terakhir penuh risiko itu adalah Yoan Uke, seorang penyuluh Keluarga Berencana (KB) yang selama ini mengabdi di wilayah terpencil tersebut.

Yoan meninggal dunia pada Kamis (28/5/2026) di Rumah Sakit Toto Kabila setelah menjalani perawatan akibat sakit. Jenazah sempat dibawa menggunakan ambulans hingga Desa Tulabolo. Namun setelah itu, kendaraan tak lagi bisa melanjutkan perjalanan menuju Pinogu.

Jalan rusak, berlumpur, berbatu, dan membelah kawasan hutan membuat ambulans menyerah. Di titik itulah, keluarga tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan ojek motor.

Tubuh Yoan kemudian diikat menyatu dengan pengendara motor demi keamanan selama perjalanan lebih dari tiga jam menuju rumah duka. Seorang warga lain duduk di belakang untuk menjaga jenazah agar tidak terjatuh saat melewati tanjakan curam dan jalur licin.

Pemandangan itu direkam warga dan viral di media sosial. Video tersebut memantik gelombang simpati sekaligus kemarahan publik terhadap kondisi infrastruktur di Pinogu yang tak kunjung membaik.

“Lihat ini pak presiden, begitu berat perjuangan rakyatmu. Membawa jenazah saja harus begini,” tulis akun Halwa dalam kolom komentar.

Komentar lain datang dari akun Yetty Indriana.

“Pemerintah tolong perhatikan desa-desa terpencil, perhatikan infrastrukturnya,” tulisnya.

Sementara akun Loudri94 menyinggung akses jalan yang hingga kini masih menjadi persoalan utama masyarakat Pinogu.
“Bisa sampaikan sama pak bupati untuk memberikan akses jalan mobil ke Pinogu,” tulis akun tersebut.

Di balik viralnya video itu, tersimpan kenyataan yang selama ini hidup bersama masyarakat Pinogu: keterisolasian.

Bagi warga di wilayah pegunungan tersebut, mengangkut orang sakit dan jenazah menggunakan ojek bukan lagi peristiwa luar biasa. Itu sudah menjadi rutinitas yang berlangsung bertahun-tahun.

Saat warga sakit kritis, mereka harus bertaruh nyawa di atas motor melewati jalan berlumpur. Saat meninggal dunia, perjalanan terakhir pun tetap harus melewati jalur yang sama.

Pinogu sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat Kabupaten Bone Bolango, hanya sekitar 41 hingga 51 kilometer. Dari Kota Gorontalo sekitar 70 kilometer. Namun jarak itu terasa sangat panjang karena medan ekstrem yang melintasi kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Dalam kondisi normal, perjalanan bisa memakan waktu 3,5 hingga 8 jam. Saat hujan turun, waktu tempuh bisa mencapai 10 hingga 12 jam karena jalan berubah menjadi lumpur dan kubangan.

Ironisnya, kondisi ini bukan persoalan baru. Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango telah berulang kali menyampaikan komitmen membuka akses jalan menuju Pinogu. Namun hingga kini, masyarakat masih harus hidup dalam keterbatasan.

Pembangunan jalan disebut terkendala status kawasan konservasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Pemerintah bahkan menargetkan akses jalan layak baru dapat terealisasi sebelum tahun 2030.

Bagi warga Pinogu, 2030 terasa terlalu jauh.
Sebab bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar proyek infrastruktur atau angka dalam dokumen perencanaan pembangunan. Ini tentang keselamatan warga, akses kesehatan, dan martabat manusia.

Video perjalanan jenazah Yoan Uke mungkin hanya berlangsung beberapa menit di media sosial. Namun bagi masyarakat Pinogu, perjalanan panjang penuh lumpur dan risiko itu adalah kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

Redaksi | Utinews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *