Utinews.id – Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo mencatat dinamika ketenagakerjaan di Provinsi Gorontalo pada Februari 2026 menunjukkan tren peningkatan jumlah pekerja, namun diikuti lonjakan signifikan pekerja paruh waktu.
Dalam rilis resmi BPS pada 5 Mei 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Gorontalo pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,17 persen, atau naik tipis 0,05 persen poin dibandingkan Februari 2025.
Angkatan Kerja dan Penyerapan Meningkat
Jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 mencapai 670.242 orang, meningkat 35.255 orang dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 649.006 orang telah bekerja, bertambah 33.836 orang.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami kenaikan menjadi 70,33 persen, naik 2,81 persen poin secara tahunan.
Kondisi ini menunjukkan semakin banyak masyarakat Gorontalo yang aktif di pasar kerja dan berhasil terserap.
Pekerja Paruh Waktu Melonjak
Namun demikian, BPS mengungkap perubahan signifikan pada pola jam kerja. Proporsi pekerja paruh waktu meningkat tajam menjadi 29,82 persen, naik 8,89 persen poin dibanding Februari 2025.
Sebaliknya, proporsi pekerja penuh (≥35 jam per minggu) justru menurun menjadi sekitar 62,33 persen. Sementara itu, tingkat setengah pengangguran tercatat 7,85 persen, turun 1,52 persen poin.
Lonjakan pekerja paruh waktu ini mengindikasikan bahwa meskipun lebih banyak masyarakat bekerja, sebagian belum mendapatkan jam kerja optimal.
Sektor Pertanian Masih Dominan
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 32,75 persen.
Struktur ini menunjukkan ketergantungan Gorontalo pada sektor primer yang relatif rentan terhadap faktor eksternal seperti cuaca dan fluktuasi harga komoditas.
Pekerja Formal Meningkat
Di sisi lain, jumlah pekerja formal mengalami peningkatan. Pada Februari 2026, pekerja formal tercatat sebanyak 256.776 orang atau 39,56 persen, naik 2,51 persen poin dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menjadi sinyal positif terhadap perbaikan kualitas pekerjaan, meskipun mayoritas tenaga kerja masih berada di sektor informal.
Tantangan Kualitas Pekerjaan
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa pasar kerja Gorontalo mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah tenaga kerja yang terserap. Namun, kualitas pekerjaan masih menjadi tantangan utama.
Peningkatan pekerja paruh waktu dan penurunan proporsi pekerja penuh mengindikasikan belum optimalnya jam kerja dan produktivitas tenaga kerja.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada tingkat pendapatan masyarakat serta daya beli rumah tangga di daerah.
Perlu Dorongan Sektor Produktif
Untuk memperkuat ketenagakerjaan, diperlukan upaya mendorong diversifikasi ekonomi ke sektor yang lebih produktif seperti industri pengolahan, UMKM, dan pariwisata, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Kesimpulan:
Meski jumlah pekerja di Gorontalo terus meningkat, tantangan ke depan tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi memastikan pekerjaan yang tersedia mampu memberikan jam kerja yang cukup, stabil, dan produktif bagi masyarakat.
Redaksi | Utinews.id
Sumber: BPS Provinsi Gorontalo













